Assalaamu'alaikum Wr Wb, buat rekat-rekan semua, blog ini hadir hanyalah merupakan sharing pengalaman kami dan rekan-rekan. Jika ada manfaat yang bisa diambil, kami sangat bersyukur dan mohon doa. Jika karena sok tahu kami ada yang dirugikan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga isinya bisa merupakan salah satu referensi. Wassalaamu'alaikum Wr Wb


Tampilkan postingan dengan label Buat Bibit F0 F1 F2 Jamur tiram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buat Bibit F0 F1 F2 Jamur tiram. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

Ebook Rekayasa Pembuatan Bibit Jamur Tiram

UPDATE BAB VI (16 Agustus 2011)

Bismillaahirrohmaanirrohiim
berikut ini ebook tentang teknik pembibitan jamur tiram, semoga bermanfaat bagi rekan-rekan. Penyusunan bertahap, jika ada tulisan (ok) berarti sub bab sudah selesai dan bisa di unduh / download.
Oya.., tulisan ini ada HAKI nya yaa.. trims.. (boleh disebarkan namun dengan menyebutkan sumbernya, dilarang keras mengutip isinya tanpa seizin penulis, dan juga tidak boleh diperjualbelikan)


Rekayasa Pembibitan Jamur Tiram Putih

I. Pendahuluan (2708 kb)

1.1. Keajaiban multiplikasi dalam pembibitan jamur (ok)

1.2. Pentingnya memahami rekayasa pembibitan jamur tiram (ok)

1.2. Pentingnya bibit yang berkualitas (ok)

II. Rekayasa Kultur Jaringan Jamur Tiram Putih (3347kb)

2.1. Pembuatan bibit F0 / PDA (ok)

2.2. Sekilas tentang PDA (ok)

2.3. Bahan yang diperlukan (ok)

2.4. Peralatan yang diperlukan (ok)

2.5. Tata cara rekayasa pembibitan PDA (ok)

2.6. Tips dan hal yang perlu diperhatikan (ok)

2.7. Memahami kegagalan dalam pembuatan PDA dan antisipasinya (ok)

2.8. Memahami perkembangan miselium PDA (ok)

2.9. Multiplikasi PDA ke PDA (ok)

2.10. Perbandingan kualitas PDA murni dan PDA ke PDA (ok)

2.11. Pentingnya memilih PDA berkualitas (ok)

III. Rekayasa penurunan generasi PDA ke bibit induk F1 (4251 kb) UPDATE!!

3.1. Pembuatan bibit F1 (ok)

3.2. Bahan yang diperlukan (ok)

3.3. Peralatan yang diperlukan (ok)

3.4. Tata cara rekayasa pembibitan F1 (ok)

3.5. Tips dan hal yang perlu diperhatikan (ok)

3.6. Memahami kegagalan dalam pembuatan F1 dan antisipasinya (ok)

3.7. Memahami perkembagan miselium F1 (ok)

3.8. Bagaimana membedakan F1 dan F2 media jagung (OK)

IV. Rekayasa generasi F1 ke F2 jamur tiram media jagung (1187 kb)

4.1. Pembuatan bibit F2 media jagung (ok)

4.2. Bahan yang diperlukan (ok)

4.3. Peralatan yang diperlukan (ok)

4.4. Tata cara rekayasa pembibitan F2 media jagung ok)

4.5. Tips dan hal yang perlu diperhatikan (ok)

4.6. Memahami kegagalan dalam pembuatan F2 dan antisipasinya (ok)

4.7. Memahami perkembagan miselium F2 media jagung (ok)

V. Rekayasa generasi F1 ke F2 jamur tiram media gergajian (16.923 KB)

5.1. Pembuatan bibit F2 media gergajian (ok)

5.2. Bahan yang diperlukan (ok)

5.3. Peralatan yang diperlukan (ok)

5.4. Tata cara rekayasa pembibitan F2 media gergajian (ok)

5.5. Tips dan hal yang perlu diperhatikan (ok)

5.6. Memahami kegagalan dalam pembuatan F2 dan antisipasinya (ok)

5.7. Memahami perkembangan miselium F2 media gergajian (ok)

VI. Membandingkan F2 media jagung dan media gergajian dalam budidaya jamur tiram (2885 KB)

6.1. Perbandingan kualitas (ok)

6.2. Perbandingan perkembangan miselium baglog (ok)

6.3. Karakter pertumbuhan jamur tiram (ok)

6.4. Resiko penggunaan F2 media jagung dan gergajian pada baglog

VII. Manajemen pembibitan jamur tiram

7.1. Pentingnya manajemen pembibitan jamur tiram

7.2. Merencanakan kebutuhan bibit

7.3. Merencanakan jadual pembibitan berdasarkan durasi perkembangan miselium

VIII. Perhitungan biaya pembibitan jamur tiram

8.1. Biaya pembuatan PDA

8.2. Biaya pembuatan bibit F1

8.3. Biaya pembuatan bibit F2 media jagung

8.4. Biaya pembuatan bibit F2 media gergajian

8.5. Menghasilkan bibit berkualitas ternyata murah..!

IX. Penutup

9.1. Kesimpulan dan Saran

Selasa, 03 Mei 2011

Pentingnya manajemen pembibitan jamur tiram putih



Dalam posting sebelumnya sudah sering kami bahas bahwa yang sangat mempengaruhi kualitas baglog jamur tiram adalah kualitas dari bibit yang menginokulasikannya. Bibit yang berkualitas itu harus dimulai dari indukan, PDA, F1, dan F2 yang berkualitas.


PDA terpilih dengan perkembangan miselium terbaik

Namun, seringkali hal ini sedikit terlupakan bagi pebudidaya jamur tiram putih. Mengapa demikian? Karena pada umumnya pebudidaya terlalu fokus dan keasyikan dalam membuat serta memproduksi baglog jamur tiram, nah saat pekerjaan yang terkadang dikejar jadual dan pemesanan yang banyak tersebut, ketersediaan bibit F2 untuk inokulasi baglog nanti sering kelupaan.

Stok F2 harus selalu dicek, pembuatan rutin bisa lebih menjamin kualitas bibit karena dalam memproduksi baglog, kita juga memerlukan waktu

Jadinya bagaimana..? Jika kurang terjadual dengan baik, terkadang pebudidaya sudah terlanjur melakukan proses sterilisasi baglog jamur tiram, namun bibit F2 yang ada kurang atau bahkan tidak ada sama sekali..? Terus akhirnya.., senggol sana senggol sini, dan yang lebih parahnya, ada juga yang kemudian masuk ke dalam kumbung produksi, lalu memilih baglog yang miselia putihnya bagus, selanjutnya digunakan untuk pembibitan inokulasi..

Salah satu persyaratan untuk kualitas bibit F2 yang baik adalah dalam 7 hari, perkembangan miselia telah mencapai 2,5cm dengan warna putih tebal yang homogen hingga penuh


Kualitasnya bagaimana..? yaa.., jangan ditanya, dengan posisi itu jangan heran bentuk jamur, karakter panen, dan jumlahnya selanjutnya tidak sesuai target yang diharapkan..

Nah.., untuk mengatasi kasus-kasus seperti ini, manajemen pembibitan kiranya perlu sekali untuk diperhatikan secara serius..
Lalu, apa kata kunci bagi manajemen pembibitan yang baik..?
Sederhana sekali ternyata.., yaitu RUTIN dan WAKTU. Itu saja..

RUTIN
Maksud dari kata kunci ini adalah, dalam pembuatan bibit jamur tiram mulai PDA, F1, dan F2, yang dibutuhkan hanyalah ketekunan, rutinitas yang terjaga, dan kontrol kualitas yang baik. Lebih baik membuat bibit itu adalah sedikit tapi rutin, dari pada sekali tapi langsung banyak.., karena seringkali banyak (kuantitas) itu melupakan kontrol, sehingga kualitas menjadi kurang terjaga dengan baik.

WAKTU
Maksudnya adalah, baik bibit PDA, F1 maupun F2, memiliki durasi waktu pemanjangan miselia yang berbeda. Masing-masing waktu itu harus diperhatikan dengan seksama, karena itu menyangkut kualitas nantinya. Selain itu, masing-masing bibit juga memiliki waktu kadaluarsa, yang menyebabkan semua durasi itu harus tercatat dan diperhatikan dengan baik.

Selanjutnya, apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses inokulasi agar kualitas baglog tetap bisa terjaga dengan baik..? Untuk itu beberapa poin berikut bisa menjadi perhatian:

Memperhatikan jumlah bibit yang digunakan untuk inokulasi
Sebelum membahas mengenai kebutuhan bibit, dan manajemennya, mari kita review sedikit mengenai inokulasi. Ini sangat penting karena menyangkut kualitas miselia yang akan dihasilkan oleh baglog nantinya.
Dalam persyaratan yang diberikan, pemberian bibit saat inokulasi adalah sebanyak 0,8% - 1,3% dari berat media yang akan dibuat. Pada umumnya pebudidaya menggunakan plastik berukuran 18x35cm yang memiliki berat sekitar 1,35kg - 1,4kg per baglog.
Ini artinya jumlah bibit yang harus diinokulasikan ke dalam baglog adalah sejumlah:
Minimal kurang lebih 11gram per baglog
Maksimal kurang lebih 18 gram per baglog

Jumlah yang di Inokulasi ke baglog kurang lebih 11gram - 18gram

Nah, jika bibit F2 yang digunakan menggunakan media gergajian dalam botol ex saus, maka jika dirata-rata, per botolnya akan menghasilkan minimal 20 baglog, maksimal 30 baglog.
Ini perlu untuk dijelaskan, karena jangan sampai kita terlalu irit dalam menggunakan bibit F2 dalam inokulasi, karena akan berpengaruh dalam perkembangan miselia.

Inokulasi bibit F2 yang baik akan cepat menghasilkan pertumbuhan miselia pada baglog, hal ini akan tampak pada waktu 24-48 jam setelah inokulasi

Selain itu ini juga untuk lebih memahamkan bahwa tidak sama bibit yang diberikan pada baglog ukuran 1,4kg dengan baglog berukuran berat 2kg.

Memperhatikan waktu/saat inokulasi yang pas
Waktu inokulasi atau pemberian bibit pada baglog yang terbaik setelah proses sterilisasi di dalam steamer adalah pada suhu kurang lebih 38 derajat C. Waktu ini didapatkan pada kurang lebih 12 jam setelah baglog dikeluarkan dari ruang steamer.

Baglog setelah dikeluarkan dari steamer, membutuhkan waktu pendinginan sekitar 12 jam sebelum siap di inokulasi bibit F2

Yang perlu diperhatikan adalah, jangan memberikan bibit saat baglog masih terlalu panas, namun juga tidak boleh saat baglog sudah terlalu dingin. Maksimal waktunya adalah 24 jam setelah dikeluarkan dari steamer. Jika baglog terlambat diinokulasi setelah keluar dari steamer, dikhawatirkan terjadi kegagalan.

Memperhatikan usia bibit F2 yang digunakan untuk inokulasi
Dalam pengamatan kami, bibit F2 yang terbaik untuk inokulasi adalah bibit yang miseliumnya telah mencapai 100% +2-3 hari. Saat itu miselium dalam botol F2 telah tercapai puncak kematangannya.
Bibit F2 bisa dikatakan expired atau kurang bagus untuk digunakan adalah bibit F2 yang setelah mencapai 100% miselium +3pekan. Atau bibit F2 yang telah tumbuh jamurnya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan agar kita selalu mendapatkan bibit F2 dengan kualitas terbaik saat inokulasi.

Ok, setelah memperhatikan 3 hal tersebut, saatnya kita mengatur dengan benar manajemen pembibitannya. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah:
  1. Perhatikan lamanya waktu pembentukan miselia pada PDA, F1, dan F2. Ini sudah kami bahas pada posting mengenai memperhatikan durasi pembentukan miselia. Ini sangat penting, karena dari sinilah penjadualan pembibitan akan diatur waktunya.
  2. Hitung dengan benar kapasitas produksi pembuatan baglog Anda, misalnya 500 baglog per hari, 1000 baglog per hari, dan seterusnya. Dengan itu prediksikan berapakah produksi baglog per pekannya dan selanjutnya per bulan.

  3. Selanjutnya sesuaikan dengan benar kebutuhan bibit F2 kita berdasarkan hitungan produksi tadi dengan waktu durasi pemanjangan miselia pada PDA, F1, dan F2. Ini sangat penting agar kita selalu mendapatkan bibit F2 dalam kondisi yang terbaik untuk inokulasi. Tidak terlalu muda, tidak pula expired/kadaluarsa atau terlalu tua untuk inokulasi.
Setelah memperhatikan tiga poin tersebut, mari kita perhatikan lagi poin perkembangan miselia berikut:
  • Perkembangan miselia PDA pada botol UC1000 adalah: miselia mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 10 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 1 bulan kemudian.
  • Perkembangan miselia F1 media jagung pada botol ex saus akan mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 20 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 3 pekan berikutnya.
  • Perkembangan miselia F2 media jagung pada botol ex saus akan mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 20 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 3 pekan berikutnya.

  • Perkembangan miselia F2 media gergajian pada botol ex saus akan mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 30 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 2 pekan berikutnya.



Memperhatikan durasi pemanjangan miselia bibit media jagung


Memperhatikan durasi pemanjangan miselia bibit media gergajian

Nah, setelah memperhatikan perkembangan miselia tersebut, dapat kita atur dengan baik bagaimana manajemen pembuatan bibit mulai PDA, F1, dan F2 agar selalu didapatkan kualitas F2 yang terbaik pada saat digunakan untuk inokulasi baglog jamur tiram putih nantinya.

Untuk itulah diperlukan penjadualan kerja dalam pembuatan bibit, dan setiap bibit juga perlu diberi label dengan isi jenis, generasi, media yang digunakan, dan tanggal inokulasi. Hal ini sangat penting agar kita bisa menentukan saat yang tepat dalam penggunaan bibit jamur tiram putih nantinya.
Pemberian label pada bibit F1 dan F2 penting dalam manajemen pembibitan

Dalam pengalaman kami yang hanya mengerjakan kurang lebih 10.000 baglog tiap bulannya, pembuatan PDA cukup dilakukan 1-2 kali per bulannya. Pembuatan bibit F1 dibuat tiap pekan, dan bibit F2 dibuat sepekan 2kali. Jumlah disesuaikan kapasitas produksi. Tapi seperti keterangan sebelumnya, yang penting rutin walau sedikit, itu justru lebih baik hasilnya..

Selasa, 11 Januari 2011

Plus minus menggunakan media jagung atau gergajian pada bibit F2 jamur tiram putih

Dalam membuat bibit F2, media yang paling banyak digunakan adalah media biji-bijian jagung, gabah, atau media campuran gergajian. Masing-masing media ini memiliki keunggulan dan kekurangan. Namun pada dasarnya semua media tersebut baik digunakan asalkan kualitasnya tetap diperhatikan.

Baglog yang diinokulasi F2 media gergajian hari ke-3

Baglog yang diinokulasi F2 media jagung

Bibit F2 dengan media jagung
Untuk membuat bibit F2 dengan media jagung, proses pembuatannya sama dengan membuat F1, hanya nantinya bibit yang diinokulasikan adalah bibit F1.Langkahnya adalah sebagai berikut:
  1. Pilih jagung dengan kualitas baik, baru, mulus tidak ada lubang-lubang bekas ulat.
  2. Cuci jagung dengan menggunakan air hingga bersih, pisahkan dengan kotoran.
  3. Rendam jagung selama 1 malam atau 2 malam.
  4. Cuci kembali jagung hasil rendaman tersebut
  5. Rebus di air mendidih hingga agak lunak (jangan terlalu lunak)
  6. Tiriskan pada tempayan bambu selama kurang lebih 20 menit hingga kadar airnya berkurang
  7. Masukkan ke dalam botol dan tutup dengan plastik tebal
  8. Sterilisasikan di autoclave selama kurang lebih 30 menit pada tekanan 2BAR.
  9. Keluarkan dan tunggu hingga suhu agak dingin sekitar 38 derajat C
  10. Lalu inokulasikan bibit jagung F1

Keunggulan bibit F2 jagung adalah:
  • Perkembangan miselium pada bibit F2 lebih cepat, sekitar 15 hari dari inokulasi sudah dapat dipergunakan. Berikut ini adalah foto perkembangan miselium pada bibit F2 media jagung hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke- 8. tampak pada hari ke-8 sudah mencapai 70%.
  • Kualitas bibit lebih baik karena menggunakan media murni (jagung).
  • Reaksi perkembangan miselium pada baglog jamur tiram putih lebih cepat dan kuat
Kekurangan bibit F2 media jagung adalah:
  • Pembuatannya relatif lebih sulit (rentan terhadap kontaminasi)
  • Pemilihan jenis jagung dengan kualitas baik terkadang tidak mudah
  • Jika pada kumbung banyak hama tikus, bibit F2 media jagung beresiko untuk digunakan, karena seringkali baglog rusak karena bibit jagung yang terdapat pada baglog dimakan oleh hama tikus
Bibit F2 media gergajian
Membuat bibit F2 dengan menggunakan media gergajian yang perlu diperhatikan adalah kualitasnya. Media campuran gergajian ini digunakan karena lebih sedikit resikonya, tetapi hendaknya dibuat dengan campuran konsentrat agar bisa mendekati kualitas dari bibit media jagung. Proses pembuatannya adalah:
  1. Siapkan gergajian yang telah dicampur kapur dan dibiarkan selama kurang lebih 3 minggu.
  2. Kalau bisa pilih jenis gergajian dengan gradasi lebih besar/kasar.
  3. Beri sedikit kalsium dengan kadar 1%
  4. Taburkan beras jagung dengan perbandingan 1
  5. Taburkan bekatul/dedak kualitas baik dengan perbandingan 2
  6. Gergajian tadi perbandingan nya 3. Jadi takarannya 1:2:3 (beras jagung:bekatul:gergajian)
  7. Campur hingga merata, lalu masukkan ke dalam botol, tutup dengan plastik tebal
  8. Sterilisasikan menggunakan autoclave pada tekanan 2,5BAR selama kurang lebih 60 menit.
  9. Keluarkan dan biarkan mendingin hingga suhu kurang lebih 38 derajat C
  10. Inokulasikan bibit F1 kedalam media tadi



Kelebihan bibit F2 media gergajian adalah:
  • Jika dibuat dengan perbandingan konsentrat tadi, maka kualitas sudah mendekati media murni biji-bijian jagung
  • Resiko pada baglog lebih kecil karena media sudah sesuai (sama-sama gergajiannya dengan baglog)
  • Lebih mudah dibuat (jarang kontaminasi)
  • Tidak beresiko terhadap hama tikus
Kekurangan bibit F2 media gergajian adalah;
  • Kekuatan bibit sedikit lebih rendah daripada bibit F2 media jagung
  • Proses perkembangan miselium bibit F2 lebih lama daripada media jagung, ini wajar karena media gergajian lebih rapat rongga-rongganya daripada media jagung.
Karakter tumbuh jamur nantinya untuk baglog yang diinokulasikan dengan media jagung dan media gergajian juga sedikit berbeda pada panen pertama. untuk media jagung karena nutrisi lebih tinggi, biasanya karakter tumbuhnya bergerombol banyak tetapi kecil-kecil, untuk media gergajian normal saja.

Namun pada panen ke-2 dan seterusnya akan terpantau sama. Rekapitulasi hasil panen jamur biasanya juga sama saja..
Jadi, kesimpulannya dengan memperhatikan plus minus tadi, silahkan saja memilih, mau menggunakan media jagung, atau gergajian bibit F2 pada proses pembuatan baglog jamur tiram putih..

Sabtu, 08 Januari 2011

Memperhatikan perkembangan miselium PDA; F1; F2; dan Baglog jamur tiram putih

Dalam membuat baglog jamur tiram putih yang bisa berkesinambungan, ketersediaan bibit harus tetap diperhatikan. Ini untuk menghasilkan kualitas baglog yang baik. Seringkali kita terlupa, karena asyik membuat baglog, terkadang kurang memperhatikan apakah bibit F2 sudah tersedia untuk inokulasinya nanti. Padahal maksimal 2 hari dari sterilisasi di steamer, baglog sudah harus diinolukasikan.

Nah.., untuk itu ketersediaan bibit harus dijamin ada. Bagaimana memperhatikan siklus perkembangan miseliumnya..? Posting ini mungkin biar foto/gambar saja yang berbicara, agar lebih jelas..

PDA
Untuk PDA, tahap perkembangan miselium yang baik adalah pada hari ke-3 sudah tampak indukan terselimuti miselium. Di hari ke-4, miselium sudah mulai menyebar pada media agar-agarnya. Nah.. untuk botol kecil, biasanya di hari ke 7 sudah menyebar sekitar 70%, dan memasuki hari ke-10 sudah mencapai 100%. Untuk botol besar, kira-kira mencapai 100% pada hari ke-15.

PDA umur 2 hari

PDA umur 4 hari

PDA umur 4hari

PDA umur 7hari

F1
Untuk perkembangan F1, pada hari ke-3 atau 4, PDA yang dimasukkan pada media jagung sudah mulai menunjukkan reaksi pembentukan miselium. Lalu miselium tersebut mulai menjalar pada media jagung sekitar 20%-30% pada hari ke-7. Untuk mencapai 80% dari botol, biasanya untuk F1 memerlukan waktu sekitar 15-18hari. Dan mencapai 100% pada hari ke-20

F1 umur 3 hari

F1 umur 7 hari

miselia F1 umur 18hari

F2
Jika media F2 dari biji jagung, perkembangan miselium akan terpantau cepat, biasanya pada hari ke-15 atau hari ke-18 miselium sudah- mencapai kurang lebih 90%-100%. Namun jika menggunakan media gergajian, biasanya perkembangan miselium akan terpantau lebih lama. Tahap awal hingga ke mulut leher biasanya memerlukan waktu sekitar-3-5hari. Untuk mencapai 90%-100% memerlukan waktu sekitar 25-30hari.

F2 umur 3 hari


F2 umur 8 hari
Baglog
Untuk baglog, rata-rata perkembangan miselium hingga mencapai 90% memerlukan waktu sekitar 25hari-30hari. Setelah itu dibuka cincinnya, dan normalnya 7-10 hari kemudian akan tumbuh jamur tiram putihnya..

baglog umur 2-3hari



Ok mari diurutkan
PDA=15 hari ---> F1=20hari ---> F2=30hari ---> Baglog=30hari ---> tumbuh jamur 10 hari. Jadi dari awal membuat indukan PDA hingga menghasilkan jamur tiram putih memerlukan waktu 15+20+30+30+10 = 105hari.

Nah.., dengan memperhatikan siklus perkembangan miselium masing-masing bibit ini, InsyaALLAH kita bisa membuat schedulle/penjadualan kerja pada proyek jamur tiram putih dengan lebih baik.

Schedulle/penjadualan yang baik akan membuat produksi jamur kita bisa optimal dan juga tentunya sesuai dengan kualitas yang baik seperti yang diharapkan

Jumat, 05 November 2010

Tips tentang kualitas bibit jamur tiram

Salah satu faktor penting yang menentukan kualitas baglog jamur tiram adalah kualitas dari bibit jamur tiram putih. Bibit jamur yang baik nantinya akan menurunkan miselium jamur secara cepat dan berkualitas pula.
Berikut ini sedikit tips yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan dan juga menggunakan bibit jamur tiram putih agar menghasilkan baglog yang berkualitas.

Bibit yang baik berasal dari indukan yang baik pula
Tips pertama ini artinya kita harus benar-benar memperhatikan kualitas indukan yang nantinya akan digunakan untuk membuat PDA. Memang dalam mencari indukan ini agak sulit dan sedikit untung-untungan juga, karena kita hanya mengadalkan kasat mata saja. Harapannya memang indukan yang dipilih dalam membuat PDA itu mengandung spora jamur yang banyak sehingga PDA yang dihasilkan bisa tebal dan bagus miseliumnya. Tentang pembuatan bibit PDA ini bisa dilihat pada posting kami Pembibitan F0.

Pengalaman kami dalam membuat PDA, dari beberapa botol PDA, kami benar-benar memilih PDA yang memiliki miselium tebal, seperti pada contoh foto berikut ini.
Miselium yang tebal pada PDA ini nantinya jika diturunkan, InsyaALLAH akan menghasilkan bibit F1 dengan kualitas baik. Dan tentu saja selanjutnya dari kualitas bibit F1 yang baik akan menghasilkan bibit F2 dengan kualitas baik pula.
Pada foto berikut tampak miselium pada PDA sebelah kiri kurang kuat, ini berarti indukan yang dipilih kurang memiliki spora yang kuat, sedang yang sebelah kanan tampak miselia tebal dan banyak, jadi PDA dari botol sebelah kanan yang dipilih untuk diturunkan ke F1.



Pastikan dan catat turunan dari bibit yang ada
Sebelumnya mari kita samakan persepsi dahulu. PDA kami sebut dengan F0, selanjutnya turunan PDA yaitu F1, turunan F1 disebut F2.
Untuk menghasilkan baglog jamur yang baik, seyogyanya maksimal turunan ada di F2, memang jika kualitas F2 cukup baik, masih boleh diturunkan menjadi bibit F3, tetapi tetap sebaiknya terakhir turunan untuk menghasilkan baglog adalah bibit F2.
Mengenai pembuatan F1 dapat dilihat di posting kami tentang pembibitan F1.
Tingkat kekuatan atau kerapatan miselium akan semakin menurun jika bibit diturunkan. Jadi pada PDA, tampak miselium yang merambat pada media agar sangat rapat dan halus.. ini hanya kasat mata saja, tetapi juga bisa diamati dengan menggunakan mikroskop. Selanjutnya jika diturunkan ke F1, tingkat kerapatan miselia akan berkurang, demikian seterusnya.

Pada foto berikut ini sama-sama menggunakan media jagung, tetapi pada foto bagian kiri adalah F2, sedang yang kanan F1. Jika diamati dengan benar, akan tampak miselia pada F2 sedikit lebih kasar dari yang F1 yang teramati halus dan lebih lembut (lebih rapat).
Yang sering jadi pertanyaan, apakah bisa bibit F1 langsung diturunkan ke baglog. Menurut pengalaman kami jawabannya bisa, tetapi karakter tumbuh jamur pada awal kecil-kecil, bergerombol dan tipis, jamur baru tumbuh normal setelah panen ke-2.

Gunakan media yang baik pada F2
Untuk membuat bibit F2 bisa menggunakan jagung, gabah, atau campuran gergajian. Dalam pengamatan kami, memang F2 yang menggunakan jagung perkembangan miselianya kuat, namun terkadang beresiko ketika di kumbung seringkali diganggu hama tikus. Tikus memakan bibit jagung yang terdapat pada baglog yang akhirnya menyebabkan baglog menjadi rusak. Bibit F2 yang menggunakan gabah dalam pengamatan kami kekuatan miselianya masih di bawah jagung, dan seringkali karena bentuknya lancip/tajam, beresiko menyebabkan plastik baglog menjadi lubang yang akhirnya memicu kontaminasi.
Karena sebab-sebab tersebut, kebanyakan pebudidaya menggunakan media gergajian pada bibit F2 karena dirasa aman. Sebab kedua adalah, pada baglog media yang digunakan adalah media gergajian, jadi jika bibit F2 nya juga gergajian, maka lebih sesuai.
Campuran F2 yang baik adalah menggunakan perband ingan jagung giling, bekatul, gergajian dengan 1:2:3. Ini adalah formula dengan nutrisi tinggi. Tingginya nutrisi ini akan teramati pada tebalnya warna putih miselia yang merambat. Kami sendiri untuk meyakinkan, terkadang menggunakan campuran konsentrat 1:2:1, walau resiko pembuatan cukup tinggi. Tetapi jika menggunakan autoclave dengan tekanan 2,5BAR selama 60 menit, InsyaALLAH tingkat kegagalan sangat rendah.
Bagi kami, F2 yang baik juga harus padat, sehingga miselia yang terdapat dalam botol sangat rapat dan kuat, ini nantinya akan tampak jika diinokulasikan ke baglog, dalam 1botol F2 yang padat bisa menghasilkan 40baglog bahkan lebih. Baglog yang dihasilkanpun InsyaALLAH akan cepat membentuk miselia.

Perhatikan waktu inokulasi yang tepat
Waktu inokulasi bibit F2 ke baglog maksimal adalah 24 jam sejak dikeluarkan dari steamer. Suhu terbaik menurut pengalaman kami adalah di kisaran 38 derajat C atau masih agak hangat. Jika baglog sudah terlalu dingin saat diinokulasikan beresiko terhadap kegagalan.
Lihat posting kami tentang inokulasi baglog.

Perhatikan usia bibit F1 dan F2
Bibit bisa dikatakan kadaluarsa atau kualitasnya berkurang jika sudah lebih dari 2 minggu sejak miselia mencapai 100% pada botol. Menurut pengalaman, usia maksimal adalah 1 minggu sejak miselia mencapai 100%, lebih dari itu kekuatan bibit sudah berkurang karena termakan oleh bibit itu sendiri. Menurut pengalaman kami, bibit dengan usia yang masih muda, baru mencapai 100% memiliki kekuatan yang baik untuk digunakan pada baglog. Bahkan jika pada botol, miselia masih mencapai 90%, itupun sudah bisa digunakan dan bibit ini memiliki kekuatan yang baik. Syaratnya jangan digunakan seluruhnya, gunakan hanya 50% dari isi botol, lalu tutup kembali dengan rapat dan disimpan. Ketika sisa bibit miselia sudah penuh, langsung habiskan. Cara ini dapat digunaka apabila kita ingin segera menggunakan walau bibit belum mencapai 100%.

bibit sisa setelah miselium mencapai 100%

Usia ini sangat penting untuk diperhatikan, dan juga bisa menjadi tips bagi Anda jika ingin membeli bibit jamur.

Bibit F2 usia 3hari, 8hari, dan 15 hari


Sebaiknya jika membeli bibit, jangan yang kondisi sudah penuh, karena kita tidak tahu sudah berapa lama miselia tersebut penuh. Lebih baik bagi kita jika harus membeli bibit, yang kondisi rata-rata 70% atau 80% saja.

Kebersihan atau sterilnya ruang inokulasi
Ini sangat penting, karena bisa jadi semua bibit sudah memiliki kualitas baik, tetapi karena ruang inokulasi kurang steril, malah bisa menyebabkan kegagalan. Karena itu baju yang kita gunakan pun sebaiknya baju khusus yang bersih, sebelum masuk ruang inokulasi, kita harus menyemprotkan tangan, kaki, baju kita dengan alkohol 70%. Dan dalam melakukan inokulasi, api pada bunzen juga harus diletakkan dekat dengan baglog untuk memastikan sterilisasinya.

Jumat, 19 Maret 2010

Memilih indukan jamur untuk PDA / F0

Dalam membuat PDA / Potato Dextrosa Agar atau F0, yang perlu diperhatikan dengan benar adalah pemilihan indukan jamurnya. Ini untuk meningkatkan probabilitas keberhasilannya. Indukan yang dipilih harus diyakinkan jenisnya agar tidak tertukar pula. Misalnya jika kita ingin membuat PDA jenis florida, harus yakin jamur yang dipilih adalah jenis tiram putih florida.

Indukan jamur yang dipilih adalah :
  • Masih ukuran muda. Biasanya spora yang terdapat pada jamur ukuran muda masih banyak sehingga cepat menghasilkan miselium
  • Memiliki gagang yang besar/tunggal dan keras
  • Bersih dan tidak mengandung hama
jamur yang dipilih masih muda dan bergagang besar
yang sebelah kiri jenis ostern, yang kanan jenis florida

Biasanya untuk memperoleh spora yang banyak, jamur tadi disobek dari atasnya hingga mendekati gagangnya. Bagian yang diambil untuk indukan PDA terletak di antara gagang tersebut seperti yang ditandai pada foto berikut:

Biasanya spora banyak pada bagian yang dilingkari
sehingga dipilih untuk indukan PDA

Dalam mengambil indukan untuk PDA ini, tangan harus bersih dengan disemprot alkohol terlebih dahulu. Silet yang akan digunakan juga harus steril dan dipanaskan pada api bunzen hingga merah.

Jika pemilihan bagian jamur untuk PDA ini tepat, maka InsyaALLAH probabilitas dalam membuat PDA akan tinggi keberhasilannya. Hal ini diindikasikan dengan menyebarnya miselium, walau baru berumur 5 hari saja.

Tampak spora yang menyebar di media PDA


Jumat, 12 Maret 2010

Rangkuman Pembibitan F0 F1 F2

Pembibitan indukan jamur tiram F0/PDA dengan F1 dan F2 hanya berbeda di medianya saja. Untuk proses sterilisasi menggunakan autoclave / panci presto dan proses inokulasi hampir sama.

Media F0/PDA (Potato Dextrosa Agar) :
- Kentang 200 gram
- Dextrosa 20 gram
- Agar powder 20 gram
- Air steril 1 liter

Media F1 :
- Jagung/biji-bijian

Media F2 :
ada yang memakai takaran 1 tepung jagung 2 bekatul 3 serbuk gergaji
ada yang memakai takaran 1 tepung jagung 2 bekatul 6 serbuk gergaji

Bibit F2 jamur tiram putih (miselium umur 4-5hari)


Dalam proses sterilisasi media dalam botol ditutup dengan kapas dan plastik polypropilen tebal 1mm. Setelah diinokulasikan, plastiknya diganti dengan kertas

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan PDA adalah juga pemilihan jenis jamurnya. Jamur tiram putih yang akan dipilih sebagai indukan adlaah yang bersih, usia masih muda/kecil, dan bergagang tunggal atau gagangnya tebal. Karena nanti memilih sporanya di daerah gagang.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah video proses inokulasi PDA :

Pembuatan PDA ini adalah salah satu referensi cara kami saja. Jangan dianggap yang paling benar. Tetapi InsyaALLAH berhasil jika sterilisasi, pemilihan bahan dan takaran pas. Miselium PDA akan penuh dalam waktu kurang lebih 7-10 hari, sungguhpun demikian, dalam 2-3 hari sebenarnya sudah tampak apakah pembuatannya berhasil atau tidak.

Tampak indukan sudah ada miseliumnya walau hanya
3 hari dari inokulasi

Tampak miselium pada PDA sudah menyebar setelah 10 hari


Untuk pembiakan selanjutnya, dari segi jumlah, berikut ilustrasinya..:

1 botol PDA bisa menghasilkan sekitar 20-30 botol F1
1 botol F1 bisa menghasilkan 40-50 botol F2
1 botol F2 bisa menghasilkan 30-40 baglog jamur tiram putih
Jadi jika diurutkan InsyaALLAH demikian

1 botol PDA menghasilkan min 20 botol F1 yang menghasilkan min 800 F2 yang menghasilkan min 24.000 baglog jamur tiram putih..

Subhanallah

Jadi.., tekunlah, yang perlu diperhatikan adalah memilih indukan dari jamur dan memilih tempat pada jamur yang mengandung spora banyak. Untuk ini perlu latihan. InsyaALLAH bisa diperhatikan pada video pembibitan kami tadi..

Selamat mencoba.

Link terkait
Membuat media F0 / PDA
Memperbanyak PDA ke PDA
Membuat media F1


Selasa, 09 Maret 2010

Memperbanyak indukan bibit ke F1

Bibit F1 jamur dari biji-bijian jagung


Jika indukan F0/PDA berhasil dibuat, langkah selanjutnya adalah menurunkan
bibit tersebut ke F1.
Tujuannya adalah untuk memperbanyak biakan bibit. Bahan utama yang akan
digunakan adalah biji-bijian/ dalam hal ini jagung.

Syarat biji jagung yang bisa digunakan adalah sebagai berikut :
- masih baru (baru dipanen) bukan yang berumur lamaaa
- Bagus kondisinya, hanya mengandung sedikit biji inti yang rusak
- Tidak ada atau hanya sedikit kontaminasi
- tidak ada jamur dan tidak ada hama
- Tidak lebih dari 12% kelembaban

Cara membuat media F1 dengan jagung adalah sebagai berikut:
1 Rendam jagung selama satu malam dengan takaran 2 liter air per 1kg jagung.
setelah itu cuci dan saring jagung, buang semua airnya.

2 Kukus jagung selama kurang lebih 30-45 menit untuk melunakkan. Lalu
keringkan air dan tebar jagung sehingga mendingin dan mengurangi airnya..

3 Lalu masukkan jagung ke dalam botol, isi cukup 3/4 nya saja

4 Tutup botol dengan kapas, lalu juga dengan plastik juga. Tutup yang rapat

5 Setelah itu masukkan media-media dalam botol tersebut ke dalam autoclave
dan steam dengan tekanan 15 lb/in2 atau sekitar 1Bar (suhu kurang lebih
121 derajat C) selama 30-45menit.

6 Dinginkan dan letakkan di tempat yang steril dan bersih.
Media sudah siap untuk di inokulasikan..

Bersihkan kotak tempat inokulasi, dan sterilkan dengan menyemprotkan alkohol.
lalu masukkan media F1 dan F0 untuk menyuntikkan bibit.
Bersihkan tangan dengan menyemprotkan alkohol.
Nyalakan bunzen api, lalu ambil botol F0, semua proses harus dekat dengan api
untuk menjamin sterilisasi.

Panaskan stik stainlessteel yang akan digunakan untuk mengambil bibit dengan
api bunzen sehingga memerah. Lalu setelah agak mendingin, masukkan ke
botol Fo dan ambil cuilan/potongan bibit F0, tutup segera botol F0 lalu
buka tutup media F1. Masukkan potongan bibit F0 tadi ke dalam media F1.
Tutup segera.

Ingat!!!, seluruh proses harus dekat dengan api bunzen.

Potongan bibit F0 tadi tidak boleh menyentuh apapun sebelum dimasukkan
ke media F1.
Tutup botol F1 dengan segera dengan kapas, lalu tutup juga dengan koran
diberi karet.
O ya.. Lupa.. Koran yang digunakan untuk penutup botol juga harus dalam
keadaan steril.. Dengan kata lain, juga diikutkan waktu proses sterilisasi
steam tadi.
Beri label... Untuk menandai waktu pemberian bibit..
Miselium akan menyebar penuh dalam waktu 10-15 hari..
Botol harus disimpan di tempat yang bersih. Bisa juga disimpan di lemari
pendingin..

Sebagai catatan :
Indukan F1 ini bisa diturunkan ke F2 yang medianya memiliki takaran campuran 1 jagung
2 bekatul 6 serbuk gergaji yang lalu dimasukkan ke dalam botol dan selanjutnya dilakukan
proses sterilisasi menggunakan autoclave.

Untuk indukan F1 dan F2 yang telah jadi ditandai telah menyebarnya miselium, bisa digunakan
sebagai bibit yang akan diinokulasikan ke baglog dalam budidaya jamur tiram putih..

Link terkait :
Membuat indukan F0/PDA
Memperbanyak indukan PDA ke PDA
Rangkuman pembibitan

Pembibitan F0 ke F0

Indukan PDA yang berhasil, nampak kapas putih
menyelimuti seluruh media


Pembuatan bibit induk PDA atau F0 juga bisa dilakukan antar PDA atau antar F0.
Hal ini dikarenakan tingginya resiko membuat bibit F0 langsung dari indukan jamur.
Kebanyakan kegagalan dikarenakan resiko kontaminasi yang tinggi.

Dalam pembuatan bibit F0, setelah dilakukan inokulasi dari indukan jamur, perkembangan
miselium harus dipantau setiap hari. Jika sedikit saja terjadi titik kuning atau hijau yang berarti
timbul kontaminasi, bibit F0 yang kita buat bisa dikatakan gagal. Walaupun selanjutnya bibit tersebut tertutup dengan putihnya miselium. Karena sedikit kegagalan saja sangat beresiko jika diteruskan untuk diturunkan ke indukan F1 dan F2.

Bagaimana menurunkan indukan F0 untuk memperbanyak F0???
Pembuatan media "agar" nya sama persis, yaitu dari air kentang dan selanjutnya.

Baca posting kami selengkapnya dalam pembuatan indukan F0.

Selanjutnya saat akan melakukan inokulasi. Bibit yang disuntikkan ke media bukan berasal dari jamur, tetapi dari indukan F0 yang telah jadi sebelumnya.
Pembuatan indukan F0 dari F0 ini memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

Maka dari itu akan lebih direkomendasikan jika ingin membuat hindukan F0 yang lebih banyak, bisa menggunakan indukan F0 yang telah berhasil dibuat.

Botol diletakkan dengan posisi tidur tetapi
janga sampai cairan PDA mengenai kapas
ini bertujuan agar memperluas area media PDA


Memang untuk memperbesar tingkat keberhasilan
digunakan autoclave. Dengan tekanan hingga 2,5BAR
bisa dihasilkan suhu 150derajat C lebih, sehingga hanya
diperlukan waktu 20 menit saja

Video demo autoclave