Assalaamu'alaikum Wr Wb, buat rekat-rekan semua, blog ini hadir hanyalah merupakan sharing pengalaman kami dan rekan-rekan. Jika ada manfaat yang bisa diambil, kami sangat bersyukur dan mohon doa. Jika karena sok tahu kami ada yang dirugikan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga isinya bisa merupakan salah satu referensi. Wassalaamu'alaikum Wr Wb


Selasa, 11 Januari 2011

Plus minus menggunakan media jagung atau gergajian pada bibit F2 jamur tiram putih

Dalam membuat bibit F2, media yang paling banyak digunakan adalah media biji-bijian jagung, gabah, atau media campuran gergajian. Masing-masing media ini memiliki keunggulan dan kekurangan. Namun pada dasarnya semua media tersebut baik digunakan asalkan kualitasnya tetap diperhatikan.

Baglog yang diinokulasi F2 media gergajian hari ke-3

Baglog yang diinokulasi F2 media jagung

Bibit F2 dengan media jagung
Untuk membuat bibit F2 dengan media jagung, proses pembuatannya sama dengan membuat F1, hanya nantinya bibit yang diinokulasikan adalah bibit F1.Langkahnya adalah sebagai berikut:
  1. Pilih jagung dengan kualitas baik, baru, mulus tidak ada lubang-lubang bekas ulat.
  2. Cuci jagung dengan menggunakan air hingga bersih, pisahkan dengan kotoran.
  3. Rendam jagung selama 1 malam atau 2 malam.
  4. Cuci kembali jagung hasil rendaman tersebut
  5. Rebus di air mendidih hingga agak lunak (jangan terlalu lunak)
  6. Tiriskan pada tempayan bambu selama kurang lebih 20 menit hingga kadar airnya berkurang
  7. Masukkan ke dalam botol dan tutup dengan plastik tebal
  8. Sterilisasikan di autoclave selama kurang lebih 30 menit pada tekanan 2BAR.
  9. Keluarkan dan tunggu hingga suhu agak dingin sekitar 38 derajat C
  10. Lalu inokulasikan bibit jagung F1
video
Keunggulan bibit F2 jagung adalah:
  • Perkembangan miselium pada bibit F2 lebih cepat, sekitar 15 hari dari inokulasi sudah dapat dipergunakan. Berikut ini adalah foto perkembangan miselium pada bibit F2 media jagung hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke- 8. tampak pada hari ke-8 sudah mencapai 70%.
  • Kualitas bibit lebih baik karena menggunakan media murni (jagung).
  • Reaksi perkembangan miselium pada baglog jamur tiram putih lebih cepat dan kuat
Kekurangan bibit F2 media jagung adalah:
  • Pembuatannya relatif lebih sulit (rentan terhadap kontaminasi)
  • Pemilihan jenis jagung dengan kualitas baik terkadang tidak mudah
  • Jika pada kumbung banyak hama tikus, bibit F2 media jagung beresiko untuk digunakan, karena seringkali baglog rusak karena bibit jagung yang terdapat pada baglog dimakan oleh hama tikus
Bibit F2 media gergajian
Membuat bibit F2 dengan menggunakan media gergajian yang perlu diperhatikan adalah kualitasnya. Media campuran gergajian ini digunakan karena lebih sedikit resikonya, tetapi hendaknya dibuat dengan campuran konsentrat agar bisa mendekati kualitas dari bibit media jagung. Proses pembuatannya adalah:
  1. Siapkan gergajian yang telah dicampur kapur dan dibiarkan selama kurang lebih 3 minggu.
  2. Kalau bisa pilih jenis gergajian dengan gradasi lebih besar/kasar.
  3. Beri sedikit kalsium dengan kadar 1%
  4. Taburkan beras jagung dengan perbandingan 1
  5. Taburkan bekatul/dedak kualitas baik dengan perbandingan 2
  6. Gergajian tadi perbandingan nya 3. Jadi takarannya 1:2:3 (beras jagung:bekatul:gergajian)
  7. Campur hingga merata, lalu masukkan ke dalam botol, tutup dengan plastik tebal
  8. Sterilisasikan menggunakan autoclave pada tekanan 2,5BAR selama kurang lebih 60 menit.
  9. Keluarkan dan biarkan mendingin hingga suhu kurang lebih 38 derajat C
  10. Inokulasikan bibit F1 kedalam media tadi

video

Kelebihan bibit F2 media gergajian adalah:
  • Jika dibuat dengan perbandingan konsentrat tadi, maka kualitas sudah mendekati media murni biji-bijian jagung
  • Resiko pada baglog lebih kecil karena media sudah sesuai (sama-sama gergajiannya dengan baglog)
  • Lebih mudah dibuat (jarang kontaminasi)
  • Tidak beresiko terhadap hama tikus
Kekurangan bibit F2 media gergajian adalah;
  • Kekuatan bibit sedikit lebih rendah daripada bibit F2 media jagung
  • Proses perkembangan miselium bibit F2 lebih lama daripada media jagung, ini wajar karena media gergajian lebih rapat rongga-rongganya daripada media jagung.
Karakter tumbuh jamur nantinya untuk baglog yang diinokulasikan dengan media jagung dan media gergajian juga sedikit berbeda pada panen pertama. untuk media jagung karena nutrisi lebih tinggi, biasanya karakter tumbuhnya bergerombol banyak tetapi kecil-kecil, untuk media gergajian normal saja.

Namun pada panen ke-2 dan seterusnya akan terpantau sama. Rekapitulasi hasil panen jamur biasanya juga sama saja..
Jadi, kesimpulannya dengan memperhatikan plus minus tadi, silahkan saja memilih, mau menggunakan media jagung, atau gergajian bibit F2 pada proses pembuatan baglog jamur tiram putih..

Sabtu, 08 Januari 2011

Memperhatikan perkembangan miselium PDA; F1; F2; dan Baglog jamur tiram putih

Dalam membuat baglog jamur tiram putih yang bisa berkesinambungan, ketersediaan bibit harus tetap diperhatikan. Ini untuk menghasilkan kualitas baglog yang baik. Seringkali kita terlupa, karena asyik membuat baglog, terkadang kurang memperhatikan apakah bibit F2 sudah tersedia untuk inokulasinya nanti. Padahal maksimal 2 hari dari sterilisasi di steamer, baglog sudah harus diinolukasikan.

Nah.., untuk itu ketersediaan bibit harus dijamin ada. Bagaimana memperhatikan siklus perkembangan miseliumnya..? Posting ini mungkin biar foto/gambar saja yang berbicara, agar lebih jelas..

PDA
Untuk PDA, tahap perkembangan miselium yang baik adalah pada hari ke-3 sudah tampak indukan terselimuti miselium. Di hari ke-4, miselium sudah mulai menyebar pada media agar-agarnya. Nah.. untuk botol kecil, biasanya di hari ke 7 sudah menyebar sekitar 70%, dan memasuki hari ke-10 sudah mencapai 100%. Untuk botol besar, kira-kira mencapai 100% pada hari ke-15.

PDA umur 2 hari

PDA umur 4 hari

PDA umur 4hari

PDA umur 7hari

F1
Untuk perkembangan F1, pada hari ke-3 atau 4, PDA yang dimasukkan pada media jagung sudah mulai menunjukkan reaksi pembentukan miselium. Lalu miselium tersebut mulai menjalar pada media jagung sekitar 20%-30% pada hari ke-7. Untuk mencapai 80% dari botol, biasanya untuk F1 memerlukan waktu sekitar 15-18hari. Dan mencapai 100% pada hari ke-20

F1 umur 3 hari

F1 umur 7 hari

miselia F1 umur 18hari

F2
Jika media F2 dari biji jagung, perkembangan miselium akan terpantau cepat, biasanya pada hari ke-15 atau hari ke-18 miselium sudah- mencapai kurang lebih 90%-100%. Namun jika menggunakan media gergajian, biasanya perkembangan miselium akan terpantau lebih lama. Tahap awal hingga ke mulut leher biasanya memerlukan waktu sekitar-3-5hari. Untuk mencapai 90%-100% memerlukan waktu sekitar 25-30hari.

F2 umur 3 hari


F2 umur 8 hari
Baglog
Untuk baglog, rata-rata perkembangan miselium hingga mencapai 90% memerlukan waktu sekitar 25hari-30hari. Setelah itu dibuka cincinnya, dan normalnya 7-10 hari kemudian akan tumbuh jamur tiram putihnya..

baglog umur 2-3hari



Ok mari diurutkan
PDA=15 hari ---> F1=20hari ---> F2=30hari ---> Baglog=30hari ---> tumbuh jamur 10 hari. Jadi dari awal membuat indukan PDA hingga menghasilkan jamur tiram putih memerlukan waktu 15+20+30+30+10 = 105hari.

Nah.., dengan memperhatikan siklus perkembangan miselium masing-masing bibit ini, InsyaALLAH kita bisa membuat schedulle/penjadualan kerja pada proyek jamur tiram putih dengan lebih baik.

Schedulle/penjadualan yang baik akan membuat produksi jamur kita bisa optimal dan juga tentunya sesuai dengan kualitas yang baik seperti yang diharapkan

Jumat, 07 Januari 2011

Pemasaran jamur tiram.. (gimana sih..??)

Banyak email, telpon, sms yang menanyakan kepada kami, bagaimana sih cara memasarkan jamur tiram yang baik dan efektif..? Apakah bisnis jamur tiram ini masih cukup prospektif untuk dijalankan..?
Ada lagi yang bertanya.., apakah kami punya supplier jamur tiram yang menerima hasil panen jamur dengan jumlah besar..? Misalkan 100kg per hari..?

Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan jawaban.., yaa.. kalau memasarkan jamur tiram itu jangan terlalu dipikir sulit.. tapi juga jangan dipikir gampang.. Tapi dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian masyarakat.. dan juga meningkatnya konsumsi jamur, InsyaALLAH bisnis jamur tiram ini masih akan semakin prospektif..
Ya.. jamur itu harus dianggap sebagai sayuran biasa saja lah.. Jadi orang beli jamur sama saja dengan beli sayur.. jangan dianggap mahal..
Ok, untuk memasarkan jamur tiram putih.., kita memang harus melihat potensi daya serap yang ada di masyarakat sekitar kita..

Sebelumnya paling sederhananya kita harus survey ke pasar setempat apakah sudah ada pemasaran jamur tiram, seberapa besar kebutuhannya, dan bagaimana sistemnya. Setelah pasar, kita juga perlu membidik beberapa segmen yang lainnya seperti, warung, rumah makan, outlet-outlet jajanan (seperti jamur goreng, tahu goreng), supermarket, catering, dan sebagainya..

Bahkan sekarang, tempat jualan nasi goreng, capjay, chinese food, untuk membuat capjay sudah diberi jamur tiram.., dalam survey kami, satu outlet saja membutuhkan 2-3kg per harinya..
Jadi coba dipilah lagi dan diperhatikan potensi penjualan jamur tiram tadi..:
  • Pasar tradisional
  • Warung
  • Rumah makan
  • outlet jamur crispi, tahu crispi, singkong goreng keju plus jamur
  • Outlet martabak
  • Usaha catering
  • Outlet nasi goreng
  • Supermarket
  • dll dsb deh..
Jreng.., kesimpulannya potensi penjualannya banyak sekali khan..? Kita tinggal membagi segmennya saja dan fokus pada penjualan ke bagian mana..

Pengalaman pribadi kami, pada awalnya penjualan jamur tiram kami ikut plasma saja. Untuk hal ini, memang resikonya sangat kecil, kita tidak perlu berfikir pada masalah pemasaran dan semua hasil panen jamur diterima. Namun memang, harga jamur tiram yang diterima juga tidak akan mahal. Kami sendiri saat itu sampai akhir 2008 diterima dengan harga Rp. 6000,- per Kg..
Nah.., dengan harga tersebut, walaupun ada keuntungan namun sangat sedikit.

Situasi pada pemasaran plasma

Coba kita hitung, jika per baglog hasil jamur terjual sekitar 400gram, jadi akan menghasilkan uant 0,4x Rp. 6000,- = Rp.2400,-. Dengan harga baglog Rp.1800,-, keuntungan kotornya per baglog hanya Rp.600,-. Jadi dari 10.000baglog akan menghasilkan keuntungan kotor 6juta selama kurang lebih 5bulan (1bulan inkubasi 4 bulan produksi). Dari keuntungan kotor itu masih dikurangi operasional, pembayaran tenaga kerja, kontrak lahan dan sebagainya. Kesimpulan, keuntungan bersihnya tinggal 300.000 per bulan.. hehe dikit yaa..

Pemasaran ke warung/outlet
(curah saja)


Pemasaran ke pasar tradisional dikemas per 200gram

Karena kondisi tersebut pada akhir 2008 kami dengan sedikit nekat mengajukan diri untuk keluar dari sistem plasma penjualan jamur tiram. Kami langsung melakukan survey di kota Malang dan Surabaya.., menawarkan jamur tiram. Dan Alhamdulillah responnya cukup baik dan prospektif. Syaratnya yaa.., kita jangan asal ngomong saja, kita harus benar-benar punya produk jamur tiram.. karena rata-rata pelanggan akan menanyakan kapan bisa mulai support. Di Malang dan Surabaya ada yang minta 2kg, 5kg, 10kg, 15kg, 7kg bahkan hanya 1,5kg perhari.. dari seluruh pelanggan kami kumpulkan ternyata permintaan per harinya mencapai 100kg.. Luar biasa.. dan rata-rata kami bisa menjual dengan harga Rp.8000 - Rp.10.000 per kg melihat grade dan kualitas jamur tiram..

Bayangkan, dengan sistem plasma, beda harganya Rp.8000 - Rp.6000 = Rp.2000 per kg. Jangan anggap remeh nilai 2rb /kg ini.. panen dari 2 kumbung dengan kapasitas masing-masing 8000 baglog bisa mencapai 3200kg x2 = 6400kg, coba kalikan 2rb tadi. Selisih penjualan yang bisa didapat adalah sejumlah Rp. 12.800.000,- wow.. Luar biasa..!!!
Akhirnya dengan segala resikonya kami dengan bersemangat melakukan pemasaran sendiri saja. Walaupun harus bolak-balik Malang-Junggo Batu dengan jarak rata-rata 25km (pp 50km) untuk nilai 12juta an tadi..

Operasional pemasaran (cukup motor saja)

Dan untuk ini kami hanya menggunakan sepeda motor.. karena rata-rata pelanggan meminta jamur tidak perlu dikemas, jadi dijual curah saja.., sehingga cost operasionalnya bisa cepat.

Berikut ini video pengemasan jamur untuk dijual ke pasar tradisional, membutuhkan cukup banyak tenaga untuk mengemas sekitar 80kg jamur:

video

Bayangkan, jika menjual ke pasar tradisonal, harus dikemas 200gram, itu membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit (operasional mahal). Jika menjual curah, untuk hasil panen 100kg, cukup dikerjakan 3 orang saja.. Ahamdulillah..

Panen 70kg hanya 3 orang yang kerja
(termasuk saya, hehe)


Kesimpulannya ya yang tadi itu.. Pemasaran tidak perlu dipikir sulit.., tapi juga tidak gampang, bagaimana usaha kita saja. Dan jangan berfikir selalu harus menjual ke tengkulak atau supplier jamur tiram yang besar saja.., jika kita mampu langsung direct sell ke pelanggan, justru harga jamur yang kita jual juga bisa semakin tinggi..